blognya rully oktario

rekaman perjalan dan perjuangan hidup seorang manusia yang sedang sekarat.

Lingkaran

Pada sebuah lingkaran, terdapat tiga buah jarum yang secara konstan selalu berotasi dengan titik sumbu pada bagian tengah lingkaran. Jarum berbentuk panjang tipis bergerak paling aktif dan cepat di antara yang lain. Pada tiap satu putaran yang dilalui jarum panjang tipis tersebut, jarum panjang yang berbentuk lebih tebal menempuh jarak satu perenampuluh bagian lingkaran itu. Sementara, satu jarum lain yang lebih pendek dari dua rekannya tampak bergerak paling malas. Ia hanya bergerak satu perduabelas bagian dari total lingkar jelajah, setelah jarum panjang yang tebal berputar penuh satu lingkaran atau setelah jarum panjang yang tipis menempuh jarak enampuluh putaran!
Selain ketiga jarum itu, pada lingkaran tersebut juga terdapat angka satu hingga duabelas yang secara berurutan dan serasi mengambil tempat dengan jarak yang sama sepanjang garis bujur lingkaran. Disetiap jeda antar angka berjejer empat buah garis yang membagi ruang itu menjadi lima bagian sama rata.

###

Kursi rotan dengan motif anyaman bambu di teras rumah itu, masih betah menyangga tubuh redi yang telah membenamkan dirinya di sana sejak setengah jam lalu. Sepatu kanvas berwarna cokelat lusuh itu belum diikat namun telah menghuni sepasang kaki redi yang bergoyang – goyang pelan. Asap kembali mengepul, rokok kretek dengan kemasan hijau kekuning – kuningan yang dihisap redi makin memendek. Telepon seluler CDMA redi tiba – tiba bergetar.
“halo”
“………”
“masih dirumah…”
“……….”
“ooo…. Ya udah, tar aku liat lagi deh”
Sebuah percakapan telepon yang dingin dan terkesan tanpa intonasi berlangsung singkat. Redi masih belum beranjak dari kursi rotan itu.
Dari kejauhan terdengar raungan sepedamotor bermesin dua tak mendekat. Redi dapat melihat jelas kedatangan motor itu dari tempat duduknya yang berada di bagian teras rumah sederhana ini. Sang pengendara motor membuka helm dan menyapa redi setelah mematikan mesin dan memarkir motornya. Percakapan terjadi antara redi dan sang pengendara motor, namun obrolan tersebut tidak berlangsung lama. Sang pengendara motor kembali meraungkan kendaraannya dan berlalu setelah menyalakan clacksound dua kali sebagai salam.
Kursi rotan itu masih tidak bergeming. Satu jam sudah pemuda berkacamata minus itu terduduk di atasnya. Andai saja sang kursi adalah makhluk bernyawa dan dapat bicara, mungkin saja telah terjadi percakapan panjang antar mereka berdua. Namun, rekan setia bagi si kursi adalah meja kayu yang terletak tepat di samping kanannya. Meja itu terbuat dari kayu dengan taplak meja dari bahan lateks berwarna kuning gading. Kombinasi tiga benda mati ini merupakan ornamen yang menjadi ciri khas kediaman keluarga Bapak Rafik. Sebuah keluarga ideal yang lahir dari rahim orde baru.
Bayangan yang dihasilkan matahari kini sudah lebih pendek dari subyek aslinya. Jalan yang tadi ramai dipadati pelalu lalang dengan berbagai seragam kini mulai lengang. Bahkan, sebagian anak – anak kecil berseragam putih merah sudah mulai melalui jalan depan rumahnya dari arah yang berlawanan. Redi dan kursi rotan itu masih berdiam diri. Wangi parfum yang ia semprotkan sehabis mandi mulai kehilangan intensitas aroma. Sesaat malah bulir kecil keringat mulai keluar dari pori – pori redi. Rambut redi kini tidak lagi lembab.
Adzan ketiga hari ini telah berkumandang lima belas menit yang lalu, adik perempuan redi berseragam putih abu – abu baru saja pulang. Sambil berlalu ia mengucapkan salam dan dijawab dengan lirih oleh Redi. Samar di dalam rumah bercat hijau muda ini mulai terdengar suara televisi. Tidak ada yang berubah di bagian teras, tubuh redi masih tertahan di atas kursi rotan bermotif anyaman bambu itu. Tetap dengan meja kayu bertaplak lateks warna kuning gading. Sudah sejak beberapa jam yang lalu tidak ada lagi asap yang terkepul. Cuaca yang tidak lagi terik mulai mengundang para penjaja makanan keliling mendorong gerobak mereka melalui setapak – setapak perkampungan menjaring rezeki dari penduduk yang mulai berkumpul dan beraktifitas bersama.
“kak udah makan blom?” ringan suara itu berbas basi menanyakan salah satu perkara “keharusan” bagi manusia sebagai makhluk hidup.
“blom, knapa?” datar dan tanpa tekanan.
“bagi duit sih kak, buat jajan” intonasi bergeser kearah bujukan manja adik kepada kakak
Selembar sepuluh ribuan berpindah dari dompet redi ke penguasaan sang adik.
Ufuk barat perlahan mulai jingga, rona gelayut sinar matahari diantara awan – awan kelabu membentuk berkas sinar kemerahan. Kedua orangtua redi telah berada dirumah. Walau hanya pegawai negeri sipil, kedua orangtua redi termasuk tipikal orang yang rajin, rajin cari penghasilan tambahan maksudnya. Tak heran, ketika banyak pegawai negeri lain sudah berada dirumah saat matahari baru sedikit tergelincir dari titik kulminasinya. Kedua orangtua redi memilih untuk tidak berada di rumah, mereka memilih tetap berada di kantor atau mendatangi rumah rekan kerja sambil menawarkan bisnis sampingan yang membutuhkan banyak downline sebagai kaki – kaki dalam piramida bisnis berantai. Tapi sayangnya janji dari upline mereka belum terbukti.
Redi dan kursi tetap mesra, masih berbagi ruang dan waktu. Adzan maghrib terdengar lantang. Sang ayah berteriak memanggil redi masuk. Kepatuhan anak terhadap ayah akhirnya mampu memisahkan cerita romantis redi dan kursi rotan bermotif anyaman bunga. Dengan sedikit kesal redi kembali menanggalkan sepatu cokelat lusuh dari kakinya dan masuk ke dalam rumah.
“gulungan listrik tuh diberesin” nada tegas dan intimidatif dari sang ayah mengembalikan tubuh redi ke arah teras, namun kali ini bukan untuk membenamkan dirinya kembali ke atas kursi rotan. Setengah hati redi menggulung kembali kabel yang sejak siang tadi digunakan untuk mengisi tenaga telepon seluler GSM miliknya. Dengan menenteng gulungan listrik redi melewati sang ayah yang menatap nanar anaknya, selintas sang ayah melirik kearah telepon selular GSM redi yang sedari tadi tidak lepas dari genggaman si anak. Sekilas terbaca “facebook.com”.

kata menghilang, makna memudar

Aku makin kehilangan kata, makin kehilangan kehendak. Semua menjadi labur dan kabur. Apalagi yang hendak terucap dan terlakukan?
Aku telah kehilangan kata, kehilangan makna. semua menjadi hening dan gelap dalam pekat.apa yang hendak kau perlihatkan?

menjelang ramadhan
di tahun dengan akhir 09 masehi

Satu titik di surau kampung

Surau ini adalah simbol kampung kami, dengan luas hanya sekitar 4X5 m surau ini tepat berada di sebelah barat alun – alun desa dan berhadap – hadapan dengan kantor kelurahan. Atapnya terbuat dari seng yang mulai mengarat dan paku yang mulai renggang. Adzan maghrib baru saja usai, langit masih menumpahkan titik – titik airnya ke bumi, seorang pemuda tampak berteduh di muka surau. Ia hanya menggunakan kaos oblong hitam dengan jeans biru belel dan sendal jepit, rambutnya sedikit melewati telinga dan Ia menyandang sebuah ransel besar berwarna hitam. Seorang lelaki paruh baya berjalan pelan ke arah surau, payung warna – warninya tampak meriah pada suasana sore yang kelam. Saat tiba di muka surau sang bapak meletakkan payungnya dan membersihkan sisa – sisa air hujan yang menetes di peci putihnya. Pandangan ke dua orang ini pun bertemu, sang pemuda mencoba tersenyum sambil menggigil menahan dinginnya cuaca.

“Tidak sekalian sholat nak?” sang lelaki paruh baya menegur.

“Enggak pak, cuma numpang neduh” jawab sang pemuda sekenanya sambil menghisap dalam kreteknya.

“Ya udah sekalian aja sholat dulu, siapa tau abis sholat ujannya reda” lelaki itu meneruskan

setengah terpaksa, sang pemuda mengikuti langkah sang lelaki paruh baya ke arah dalam surau, setelah meletakkan ranselnya ia menuju sisi samping luar surau yang terdapat pancuran air, pancuran ini digunakan sebagai tempat berwudhu bagi orang – orang yang hendak sholat. terkadang, anak – anak kecil kampung suka mandi di pancuran ini saat tengah hari.

lelaki paruh baya yang mengajak si pemuda untuk sholat  masih berada di dalam surau bersana jemaah lain, hujan terlihat belum hendak  reda, malah semakin deras air tertumpah, seekor katak sawah tampak berlompat – lompat melewati saluran air yang mulai kewalahan menerima debit air.

sang pemuda duduk di pintu surau, menyalakan batang terakhir kreteknya. matanya memicing manatap langit yang gelap, kepulan asap terhembus keluar dari mulut dan hidungnya. ia tertunduk, menahan kantuk, ia belum beristirahat secara layak sejak menginjakkan kaki di kampung ini sore tadi. perjalanan menggunakan kereta ekonomi selama lebih kurang tujuh jam dilanjutkan dengan bus kurang lebih satu jam  benar – benar menguras energinya. perjalannya bahkan belum usai, ia mesti berjalan sekitar setengah jam lagi untuk sampai ke tujuan, sebuah rumah bercat putih di tengah – tengah kampung ini, sayang setengah perjalan menuju tengah kampung ini ia dihentikan hujan dan harus berteduh di surau kecil ini bersama orang – orang yang tak ia kenal.  cuaca semakin dingin, adzan isya mulai diperdengarkan

Berbuat dan terucap, mengasih dan bermaaf (Part II)

Bahkan aku tak punya cukup waktu untuk menyelesaikan bagian kedua tulisan ini tepat waktu!!!

beginning of Part II

Lamat – lamat senja mulai turun dan memberkaskan sinar jingga di ufuk barat. Seorang pria muda berusia awal 20-an menapak menyusur jalan menurun yang mengiring langkahnya menuju sebuah rumah kecil di sudut jalan. Tas ransel besar di pundak  pemuda itu menambah beban kakinya yang mulai pelan merangsek jalan kecil berdebu dan berlobang, dari arah belakang sebuah sepeda motor melaju cepat meninggalkan jejak debu yang tinggi membumbung, pemuda tersebut terbatuk dan menutup muka dengan kedua tangannya.

Rumah yang ia tuju adalah sebuah rumah kecil beratap genteng warna cokelat tua, rumah itu terlihat kusam seperti sebuah rumah tua yang tak pernah dihuni. Dari dalam rumah, samar terdengar suara orang bercakap – cakap, ia pun mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Tak lama tampak seorang pemuda sebaya membukakan pintu, dan mempersilahkan masuk dengan sambutan seorang sahabat yang sangat akrab.

Di dalam rumah tersebut lima pemuda lain masih tampak asyik bercakap dan memberikan salam ketika ia masuk dan meletakkan ransel besar yang ia bawa pada dinding pembatas ruang tamu dan ruang tengah tempat para pemuda lain berkumpul

“maaf telat” ia pun mulai mengambil tempat di antara keenam orang yang telah hadir terlebih dahulu.

“gak apa – apa, kita juga baru mulai kok” pemuda gondrong dengan perawakan kurus yang duduk di hadapan sebuah white board menyahut.

pemuda ini adalah Ali, seorang mahasiswa jurusan pertanian semester delapan sebuah perguruan tinggi negeri di Palembang.  Ia dikenal tenang, kalem, cerdas dan tegas. Ia juga dikenal sebagai orang yang supel dan gampang beradaptasi dengan lingkungan sosial sekitarnya.

“lanjut bung” pemuda lain yang juga gondrong tapi berperawakan lebih tinggi dari Ali menambahkan, pemuda ini adalah Priono dikenal sebagai seorang yang sangat lembut, walau tampilan luarnya menyerupai seorang gitaris death metal.

Percakapan mereka terus berlanjut hingga tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 02.15 dini hari, salah satu dari mereka yang duduk sedikit di pojok ruangan menguap dan disambut ejekan dari yang lain.

“Sepertinya hari ini cukup dulu bung, kemaren kita sepakat tidak terlalu baik untuk melanjutkan pembicaraan hingga larut, kita juga butuh energi untuk kuliah di pagi hari, kemaren kita telah sepakat bahwa diskusi hanya akan sampai pukul dua belas dan bila belum selesai akan dilanjutkan esoknya dengan jam yang akan kita sepakati, bagaimana?” pemuda lain yang terlihat paling tua di antara mereka angkat bicara.

“ya sudah bung, kita sepakati saja kapan kita akan mulai lagi besok” kali ini Prana, mahasiswa elektro satu angkatan dengan Priono ikut bicara.

kemudian waktu berlari kencang hingga matahari menjemputnya. sang pemuda terbangun ketika riuh suara terdengar lirih dari halaman belakang rumah tempat ia menginap tadi malam, ia melirik jam dinding yang tergeletak tepat di sebelah kepalanya yang hanya berbatas bantal dengan lantai. hari belum tinggi, baru pukul 07.00 pagi hari tapi suara di luar sudah mulai riuh, tak biasanya. sang pemuda beranjak ia menuju ke arah suara di halaman belakang, sedikit terkaget ia mengucuek mata dan tanpa sadar mulutnya membuka membentuk huruf “O” dengan suara terheran yang spontan. Betapa ia terkejut melihat halaman belakang rumah itu telah berhadap – hadapan langsung dengan jalan raya, padahal tadi malam ketika ia datang, halaman tersebut masih berbatasan dengan pagar beton setinggi satu setengah meter lengkap dengan sebuah pohon jambu biji yang berdiri sedikit landai dan tumbuh serta bersama rumput – rumput liar.

sekedar ingin menyapa

ini sekedar tulisan iseng yang ingin aku buat. soalnya kasian juga klo bog ini gk pernah ditulisi hehehe…..

dua malam yang lewat, aku menghabiskan malam ngobrol bersama seorang kawan yang bertemu secara kebetulan. ia adalah kawan semasa smu. dan dari sekian banyak cerita, pikiranku terpaku ke kenangan semasa smu yang hingga kini terkadang masih ingin aku rasakan lagi atau malah ingin aku buang sama sekali (demi besok yang tidak akan mengajak kemarin untuk serta berjalan). tapi ketika romantisme kenangan itu terlintas lewat setiap kata yang kami lontarkan ada juga kesedihan yang aku anggap seperti ironi. ternyata banyak hal yang aku lewatkan kala itu. pada nyatanya aku tidak terlalu banyak berkawan!!! dan ketika masa itu lewat banyak sekali person yang hilang dari ingatanku!!! banyak nama yang disebutkan oleh kawanku tersebut tidak aku kenali atau mungin terlupakan (kawanku bilang itu wajar krena masa itu sudah sangat jauh terlewati, kurang lebih 10 tahun) tapi bagiku ini tidak wajar, buktinya kawanku itu masih bisa mengingat setiapperson yang ia sebutkan dengan sangat baik, bahkan di mana rumah dan dengan siapa kawan – kawn yang sebutkan pernah pacaran!!! atau mungkin juga karena ia orang yang terlalu ingin ikut campur masalah orang lain kali y???!!! ^^ akhirnya ada perasaan yang timbul untuk kembali bertemu orang – orang tersebut, sekedar menyapa dan bertanya kabar mungkin, dan kemudian kita kembali saling melupakan. ah mungkin adalah sesalanku karena punya sekolah yang tidak pernah rutin membuat acara reunian. sampai saat ini hanya reuni – reuni keci dengan kawan dekat yang masih terlakukan….. hhhmmmmffffffhhhhhhhh……..

maafkan aku kawan2……. ^^

catatan kecil dan segelas kopi pengantar tidur

Dalam hidup manusia ada fase – fase yang akan dilewati.
Pada setiap akhir satu fase akan memulai fase baru, yang secara kualitas dapat dikelompokkan menjadi dua, mekanis dan dialektis. secara sadar atau tidak setiap manusia pasti berada pada salah satu kelompok diatas.
kelompok dialektis adalah orang – orang yang pernah jatuh kemudian secara rasional dapat bangkit dan maju layaknya spiral yang terlihat melingkar tapi sebetulnya ia merupakan sebuah lingkaran yang tidak menyatu dan terus maju hingga titik akhir.
sementara kelompok mekanis adalah orang yang mampu bangkit dari kejatuhan tapi dengan kondisi yang lebih kurang sama seperti saat sebelum ia terjatuh. memang terlihat sepertinya ia kembali ke atas tapi perputarannya hanya berulang seperti sebuah lingkaran yang berputar pada porosnya.
tidakkah semua manusia selalu menginginkan satu mimpi yang lebih baik dari malam sebelumnya? dan perbedaan antara seorang pemimpi dan pengkhayal bukan terletak pada jumlah tidurnya!! hehehe… tapi pada cara ia mencapai mimpinya.
seorang pemimpi akan membawa mimpinya ke alam sadar layaknya mimpi tersebut akan terjadi keesokan harinya, sementara seorang penghayal akan membawa mimpinya ke alam sadar seperti mimpi tersebut sedang terjadi sekarang!
silahkan memilih progresi seperti apa yang anda inginkan, dialektiskah atau mekanis? tetapkan diri anda untuk menjadi seorang pemimpi atau cuma penghayal!

Dan satu fase kembali aku lewati, seperti segelas kopi yang sekarang aku sesap panuh nikmat. perjalan sebiji kopi hingga akhirnya hanya menjadi ampas kopi yang terendap di dasat gelas adalah sebuah perjalanan yang diresikokan untuk terjadi.
sebuah perjalanan yang penuh tahapan dan tidak gampang, melalu proses pembibitan untuk mencari mana yang tunas yang kan menghasilkan biji – biji kopi unggulan hingga ia memulai proses baru bernama penyemaian. bibit – bibit unggul akan disemai ke perkebunan hingga masa panen ia tiba.
fase baru baginya dimulai kembali dengan proses pengeringan hingga akhirnya ia menjadi bubuk atau dijual sebagai biji. tahap berikutnya ia mampir kerumah – rumah atau ke kedai – kedai kopi dan berakhir sebagai endapan ampas pada setipa gelas penikmatnya.
Ia selalu mengalami progresi dalam setiap fasenya hingga mencapai akhir.

ah catatan ini terlalu ngawur.

Berbuat dan terucap, mengasih dan bermaaf (Part I).

Dua puluh lima Oktober yang lalu aku kembali bertemu dengan tanggal kelahiranku. Sebuah momen yang biasanya digunakan kebanyakan orang untuk merayakan bertambahnya umur. Entah apakah ada yang aneh dari diriku, sudah sejak pertemuanku yang ketujuh belas dengan hari lahir, selalu aku gunakan untuk menyepi dan menikmatinya seorang diri sembari mengingat kembali sebanyak mungkin kejadian yang dapat membuat aku tertawa, berfikir, malu, menangis, merasa terasing, atau bahkan merasa hebat. Sebuah “ritual” yag sebetulnya aku gunakan untuk upaya koreksi diri. Tapi sayangnya, setiap kali pukul 00.00 tanggal 26 datang, seolah semua usaha untuk menjadi lebih baik hilang. Pada akhirnya tidak banyak yang berubah dari seorang Rully Oktario.

Ada kejadian lucu yang aku ingat pada peringatan hari lahir kelimaku. Pada saat itu dirumah diadakan syukuran kecil – kecilan, dan entah kenapa setelah acara tiup lilin, (mungkin terinspirasi dari prosesi pemberian penghargaan hehehe…) banyak yang hadir saat itu (dan sebagian besar yang hadir adalah ibu – ibu!) meminta aku untuk memberikan semacam speech ucapan terimakasih. Maka dengan lagak seorang aktor kelas kakap yang mendapatkan piala oscar untuk kesekian kalinya, dengan lancar aku mengucapkan terimakasih kepada setiap orang yang aku rasa sangat berjasa padaku saat itu, dan aku ingat ikut menyertakan nama Presiden Suharto, Sudharmono (Wapres kala itu) dan Harmoko (Menteri penerangan saat itu) entah untuk alasan apa hahahahaha…..

Saat ini, dua puluh lima tahun berlalu dari hari pertama aku menghirup udara dunia. Aku bertanya, apakah ucapan terimakasih masih pantas aku berikan, bukankah saat in aku lebih pantas untuk meminta maaf dan bukan berterima kasih atas apa – apa yang telah aku terima. selalu kita berterimakasih untuk segala sesuatu yang didapat dan memang harus! tapi pernahkah kita terpikir untuk meminta maaf untuk setiap berbuat dan membuat susah bagi yang lain? pernahkah kita meminta maaf untuk yang terucap dan membekas luka bagi orang lain? pada keduapuluhlima tahunku, aku meminta maaf kepada mereka.

Allah SWT – maaf untuk menjadi orang yang memercayai-MU tapi terlalu banyak memertanyakan-MU. Maaf, telah Kau buat menjadi orang yang sadar namun tak sadar hak dan kewajibanku pada-MU. Maaf, telah mengaji ayat – ayatMU untuk menjadikannya komoditas kepentinganku!!!, Maaf untuk tak pernah meminta maaf kepadaMu selama ini. terlalu banyak permintaan maaf kepadaMU.

Nabi Muhammad SAW – kita tak pernah saling mengenal, tapi ajaranmu telah menjadi menu pelajaranku sedari kecil, tak sedikitpun yang mampu menggugahku untuk mengikutimu. Aku harus meminta maaf untuk itu.

Kedua orangtuaku – Kepercayaan adalah hal yang selalu kalian tanamkan kepada kami anak – anak kalian. susah untuk mendapatkan kepercayaan orang, gampang untuk merusaknya. pada satu titik aku telah menghempas habis kepercayaan itu dan kalian adalah orang pertama yang kembali memberikan kepercayaan diriku.

kedua kakakku – insiden MotoGP, insiden lantai 2, insiden beranda depan, insiden kamar mandi, insiden jidat berdarah :D , insiden perbatasan Unsri, insiden sepeda onthel :) , insiden uang Rp50, insiden rawa belakang masjid, insiden surat panggilan sekolah, aahhh… trelalu banyak insiden antara kita yang bila ditulis.

daftar berikut ini, tidak berurutan namun berdasarkan ingatan.

Para Wanita (Bukan niat untuk mendahulukan para hawa, tapi biar enak suasananya hehehe…)

Sosma Yunita – untuk tragedi kelas 3 SMU yang memalukan dan memilukan :) ,  yoga orbita – untuk rekayasa kejadian di salah satu jumat pada 2002 yang mengharuskan kita tidak lagi saling mengenal (terimakasih ucapannya kemarin) Yeti Oktavianti – “lepas semua yang kuinginkan, takkan kuulangi” berbahagialah engkau sobat, Faradibah – ketololan dan ketakutanku yang membuat semua tidak terjadi! Hermiati – aku atau kamu yang mesti meminta maaf! Windri “my wind twisting” – a can of beer wont change anything! Dona – maaf aku harus mundur!!!

Para SAHABAT

Tri Efendi – kita perlu bicara secara dewasa dan menemukan kembali hakikat permasalahannya, Pangeran Kramajaya – halo sob, sehatkah engkau? saat aku berkunjung senyummu tetap menyapa. Rekan – Rekan KFP (kak shaful, kak wandi, kak muslih, mas kris, fajri dan lain lain) – maaf telah menjadi orang yang terlalu gampang kecewa. Kurniadi Saputra – aku tau rumahmu bukan tempat bolos, tapi pilihan hanya satu dan itu rumahmu!, sembilan sahabat SMU terbaikku (S Budi Utama, jhoniansyah, kurniadi Saputra, Fri Andrean M, Ifan Ariansyah, Rian Hadi Kurniawan, M Taufik Alfajri, Tri Cahyanto, Akbar Rol Asmi) menyita waktu dan tenaga kalian merupakan hal yang menyenangkan hingga akhirnya aku sadar bahwa hidup tak hanya tentang kita tapi ada “aku”, “kami” dan “kau”. Hendra Ananta Rizal, Rully Reza Kurniawan, Muhammad Ridha (my best three buddy) – apa yang telah kalian korbankan demi aku takkan menjadi sia.

Part II  segera menyusul

In a Relationship

Tulisan Ini, sekedar postingan yang secara reaksioner aku buat setelah membaca post seorang kawan di blog pribadinya. Tentang hubungan, saling hubungan atau apapun namanya. Aku bukan orang yang dengan senang hati mengatakan benci kepada orang lain, aku juga bukan orang yang dengan senang hati mereject permintaan, aku bukan manusia tak punya hati yang tak segan – segan berkata kasar saat rasa benci mulai menjalar. Aku hanya seorang manusia normal yang hidup dengan perilaku yang juga ingin dianggap normal, ada yang “bilang kamu tuh terlalu cuek”, tapi ada juga yang bilang “Rio itu orangnya kelewat baik” trus ada yang ngomong “dia itu orang yang gak pernah bisa pegang janji!” sebaliknya ada yang ngomong “wah makasih yo, kirain gak bakal kelar hari ini”. Sebetulnya aku ingin menyampaikan perkara simpel yang juga sangat biasa! aku cuma pengen katakan bahwa setiap manusia itu tidak berdiri sendiri atas kakinya! seorang manusia juga merupakan bagian dari sebuah komunitas besar yang disebut masyarakat, dan seorang manusia yang selalu berada pada keramaian adalah manusia yang memiliki ruang prbadi bagi dirinya sendiri juga. -perasan agak gak nyambung, whateverlah namanya juga keluh kesah- Dan aku juga ingin diperlakukan sebagai seorang manusia biasa. Yang memiliki ruang bermain dengan khayalku sendiri, orang yang memiliki ruang lelap dengan mimpi sendiri, manusia dengan altar spiritualnya sendiri. Aku tidak mungkin bisa untuk terus berada satu ruang bersama anda! pada satu waktu kita sama berjalan, tapi satu ruang tak mungkin terus bersama. Aku tau yang kamu maksud “kamu” pada postmu itu ya “aku” ….. waduh……

“Satu jalan dengan dua tikungan di depan, jalani bersama atau berpisah. ini semua bukan tentang itu!”

Penggalan kalimat tak jelas diatas aku ambil dari “Kumpulan sajak tak jelas” yang ditulis oleh Rully Oktario saat duduk di bangku SMA hehehhe….

Yah… kejadian seperti ini, bukan hal pertama yang aku alami. Sudah berulang kali terjadi. Apakah seorang manusia dengan jenis kelamin seperti aku selalu memiliki kehendak lain ketika berbuat baik pada lawan jenisnya? apakah itu lantas dikatakan sebagai sebuah upaya untuk memikat? sebuah upaya untuk membujuk? kalau kamu selalu beranggapan seperti itu, kita sedang berada pada satu jalan dengan dua tikungan dan memilih jalan masing – masing! selalu aku tekankan “ini bukan tentang itu” ooohhhh… ayolah…. mari sejenak berpikir tentang saling hubungan, hubungan yang dibangun dengan sebuah niat baik mudah – mudahan memberi hasil yang baik, hubungan yang dibangun atas dasar “sesuatu” semoga memberikan hasil yang melimpah. nah loohhhh…… halah ngawur teruss…… mari kita sejenak berpikir tentang saling hubungan.

………………………………………………………………… waduh kelamaan juga mikirnya…………………………………….. baca lagi post aku “seperti anak kecil yang tergelincir”, dan aku akan mempertanyakan ini kepada kalian, ketika anda kecil punyakah anda teman karib dari lawan jenis? atau kejauhan klo bicara masa kecil, saat kuliah deh (masa terakhir kita dikelompokan kedalam massa mengambang, ini istilah aku sendiri loh) di saat anda kuliah, apakah anda mempunyai sahabat karib dari lawan jenis anda? aku punya sekitar 4 orang diluar kawan – kawan dalam kategori “Pacar” dan satu orang yang sudah seperti saudara sendiri. Aku berhubungan baik dengan mereka atas dasar ketulusan untuk membangun hubungan perkawanan, bukan atas dasar keinginan untuk memesona, merayu kemudian membujuk. Tidak.

aduh lucu hal kayak gini terus – terusan harus masuk dalam blogku.

Kita bersahabatpun, adalah sebuah relationship yang juga harus dijaga. Tolonglah, aku tidak pernah bisa menjalin hubungan yang lebih dari itu untuk orang yang baru aku kenal sekitar tiga minggu! pada masanya kita berdua yang akan menentukan belokan mana yang akan kita ambil, terus berjalan bersama sebagai dua orang manusia atau berjalan sendiri – sendiri sebagai hamba Tuhan. Kalau kau menganggap in a relationship harus selalu seperti yang kau maksud. maka biarkan aku membangun relationship-ku sendiri dengan ruang rupa visual melalui media kertas fotoku, hanya ia yang mengerti keindahan visual yang aku inginkan. bila relationship yang kau hendaki adalah seperti itu, biarkan aku bermain dengan imajinasi audio telecaster-ku, ia paham harmoni suara yang aku kehendaki, dan bila relationship yang kau hendaki sudah tertulis, biarkan aku bercinta bersama putihnya kertas dan pekatnya tinta, mereka mencintaiku dan mengetahui yang aku maksudkan.

Rully Oktario

16 Septermber 2008, ruang komputer yang selalu berantakan!

test.

font bisa dikecilin. pake HTML script
coba dicoba
tapi cuma large small, sama xxsmall kyak gini

Hierrgghh.. Cuih! Perang! (dari kawan angga)

Matahari tepat berada ditengah. Panasnya minta ampun, menyengat sampai ke kepala dan menyilaukan mata. Tak henti-hentinya keringat bercucuran. Habis sudah pakaian bersih satu-satunya yang kukenakan! Kumal kena keringatku dan keringat orang-orang yang berdesakan di dalam bus kota pengap ini.

Sungguh hiruk pikuk ini! Begitu menyebalkan! Ditambah tingkahan musik re-mix yang tersambung pada speaker kelas ‘kambing’ yang suara treble dan bass-nya bikin mual. Plus getaran kaca jendela yang bersinggungan dengan musik yang disetel maksimum, perutku tambah tak sedap rasanya…derr… derr.. derr… derr..derr. Aduh!

Biar kuceritakan apa yang sedang terjadi pada kalian. Tolong dengarkan baik-baik….

Ada seseorang yang melangkah gontai keluar dari sebuah gedung bertingkat. Mukanya lusuh, awut-awutan, melambangkan kenestapaan, seperti kalah perang. Walau pakaian yang Ia kenakan begitu parlente, necis, tetap tak mampu menyembunyikan kesedihan itu. Ia ditolak, lagi. Undangan wawancara sedari seminggu kemarin yang diharapkan kandas sudah. Sial betul! Pikirnya, ternyata IPK tinggi tak mampu menjamin apa-apa buat masa depan. Sudah beberapa kali Ia kehilangan kesempatan. Dan sekarang, dipinggir jalan yang riuh dengan suara kendaraan, Ia menanti bus kota yang akan membawanya pulang, kembali ke peraduan.

Tak lama kemudian Ia sudah berada dalam sebuah bus yang dikendalikan seorang gemuk berkumis lebat tak berbaju dengan handuk kecil melingkari lehernya. Diatas amplifier, tepat dihadapannya, dibelakang setir, sebuah kipas kecil tertatih-tatih berputar dihadapannya, putaran baling-balingnya begitu pelan. Supir itu tak tergoyahkan berada disinggasananya, dibarisan terdepan, dekat kaca lengkung besar. Tepat di tengah kaca, pada sudut paling atas, tertera tulisan, dengan huruf kapital besar-besar warna Pink ‘medok’ yang berbunyi: AN 3 DIS… dan dengan prinsip suka-suka gue yang dijunjung tinggi oleh para seniman, pada interiornya meriah dihiasi dengan karya ribet padat kertas minyak warna-warni yang dilekatkan begitu saja pada langit-langit bus. Kurang lebih mirip-mirip dekorasi ala tenda kondangan acara pernikahan, plus musik Re-mix organ tunggal yang biasa di-tanggap di daerah pemukiman warga kebanyakan yang dikemas dalam kepingan kaset bajakan dan menyalak kresek-kresek akibat speaker yang terlalu sering ‘bekerja keras’ karena disetel dalam volume maksi…

Bus berjalan pelan, tersendat-sendat, meninggalkan asap hitam yang mengepul tebal walau dilihat dari jarak 10 meter. Akibatnya, Tulisan besar pada kaca belakang, dengan warna senada dengan tulisan pada kaca depan hampir tak kelihatan, padahal itu menjelaskan maksud dari tulisan di kaca depan: S@Y YES 2 JANDA! … Mungkin pak supir ini termasuk kedalam tipe orang yang percaya pada pengalaman. Sehingga, dengan asumsi tingkat kelihaian dalam pemenuhan kepuasan, maka Ia cenderung memilih orang-orang ‘berpengalaman’ tersebut. Entah benar atau salah, itu cuma sekadar asumsi, cuma pak supir sendiri yang tahu.

Padat sekali didalamnya. Ada Ibu-Ibu, Bapak-Bapak, perempuan muda ber-make-up tebal, pasangan, anak sekolah. Semua diam, mungkin tak bersemangat untuk berkata walau sepatah, akibat cuaca panas yang memeras cairan dalam tubuh. Tubuh-tubuh yang kelelahan itu tergoncang bebas kesana kemari seirama laju bus kota yang mereka tumpangi. Mereka memenuhi tiap sela yang dapat memuat mereka, hingga membuat bus miring kekiri karena banyaknya penumpang yang berdiri di dekat pintu. Walaupun begitu, si kernet kurus cungkring, dengan menggenggam lembaran uang di tangan kiri sambil mengacung-acungkan telunjuknya pada orang-orang yang berdiri dipinggir jalan dan tangan kanan berpegangan pada handle pintu bagian belakang, cuek berteriak-teriak menawarkan jasa tumpangan pada orang-orang yang berdiri di pinggiran jalan meskipun Ia sendiri tak mampu menjawab dimana lagi calon penumpang yang hendak bergabung akan Ia letakkan.

Lagu re-mix Ari lasso-entah apa judulnya, menghentak kencang, ditingkahi getaran daun jendela,

‘kubayangkan bila engkau datang’
gerr..der..derr..derr..derrr
‘kupeluk dan bahagiakan aku’
drrt…drt…gerr…ger…

begitu terus berulang-ulang. Dikira-kira satu lagu ini saja dalam versi re-mix durasinya bisa bertambah jadi lima belas menitan. Apalagi ditambah potongan-potongan melodi yang diambil dari lagu-lagu lain macam smells like teen spirit-nya Nirvana yang bakal buat Kurt Cobain ngamuk-ngamuk didalam kubur, intro pembuka sweet child o mine-nya Gun’s N Rose, Nidji, Matta dan banyak lagi yang lain… Jadi… Capek deh…

Tak usah dibayangkan bagaimana kusutnya Ia, sang penestapa, yang duduk di bangku paling belakang dekat pintu. Wajahnya begitu gusar. Hidup itu begitu menyebalkan, pikirnya. Apalagi ‘terjebak’ didalam bus beraroma masam, kombinasi berbagai macam keringat penumpang dan asap rokok yang keluar dari mulut orang-orang bebal, menambah buruk suasana hatinya. Beruntung, Ia kebagian tempat duduk yang harus ‘dibagi’ bersama lima orang lain dikursi panjang yang seharusnya cuma muat untuk empat orang sehingga membuatnya sesak nafas karena tergencet. Berkali-kali Ia ‘duel’ pantat dengan orang-orang disebelahnya. Speaker kecil yang terpasang pada langit-langit bus menderu tepat diatas kepalanya, Pfff…. Pikirannya tak banyak, cuma rumah. Ia ingin beristirahat, mandi dan kemudian nongkrong didekat kipas angin. Keringat masih bercucuran deras. Dahinya basah berkilat oleh paduan keringat dan Gatsby yang mencair akibat panas. Baju parlentenya sudah tak karuan, basahnya bukan main. Aromanya sudah tak jelas, antara harum parfum Bvlgari non alkohol yang dibeli di mall dan masamnya keringat penumpang yang bersenggolan karena goncangan akibat lubang jalan dan ‘permainan’ pedal rem sang supir ugal-ugalan.

Pikirannya benar-benar kosong, Ia tak tahu potensi apa yang benar-benar Ia punya. Keahlian apa yang akan menemani, mengantarkan Ia pada masa depan yang diharapkan hingga kemudian berbahagia? Sejak lama Ia meragukan dirinya sendiri, apa betul dia manusia? Ataukah Ia sudah menjadi manusia yang tak lagi manusia, bergabung dalam kerumunan manusia yang tak mengenali diri mereka akibat kebingungan pendidikan? Ingin rasanya Ia menjerit, menumpahkan kekesalannya, pada siapa saja. Untung saja, angin tak sehat sesekali berhembus ketika bus mulai bergerak kembali, mendinginkan kepalanya, walau cuma sebentar. Terngiang kata-kata terakhir mendiang Ibunya, “Sekolahlah, gapai ilmu setinggi-tingginya agar masa depanmu tak suram. Buat kami, keluargamu, bangga.”, dan sejak saat itu Ia telah bertekad. Dengan dibiayai Ayah, akan Ia abdikan dirinya pada pendidikan. Berkutat pada jam-jam dan mata kuliah yang sebenarnya tak Ia pahami hingga lulus membanggakan dengan nilai, n-i-l-a-i, tinggi-walau tanpa pemahaman.

Ngiit…
“Bukit! Bukit! Bukit!”
“Kasih lewat, kasih lewat pak…”
“Ayo goyang Ibu, cepat sedikit turunnya. Polantas itu sudah memperhatikan kita”

Suara rem dan teriakan sikernet membuyarkan lamunannya. Jalanan padat dengan kendaraan. Belum jauh berjalan, Bus sudah beberapa kali berhenti buat menaikkan dan menurunkan penumpang. Tak ada tempat pemberhentian khusus, sepanjang jalan adalah halte. Bus bisa berhenti kapan saja dan dimana saja. Asap hitam terus mengepul dari lubang knalpot di buritan seakan ingin menelan setiap kendaraan yang tersiram polusi. Pelan, tapi pasti, bus itu bergerak, menjauhi gedung megah yang telah mengandaskan satu lagi-dari jutaan- harapan yang berserakan.

Orang itu aku. Krisis Identitas, tak mampu mengenali diri sendiri.

Lulus kuliah, kalah perang!

dari kawan angga

http://www.ruang-imajinasi.blogspot.com

Older entries »