Januari tidak dimulai dari tanggal satu, tapi diawali oleh tanggal sepuluh. Saya tidak perlu menuliskan alasannya disini, cukup saya yang tahu. Sejak itu, Januari berwarna – warni dan terang benderang. Sebuah optimisme membakar semangat bahwa tahun ini akan menjadi tahun istimewa dan sangat diingat setidaknya oleh saya hingga beberapa tahun kedepan. Akan selalu dengan senang hati meninggalkan bekasnya dalam kalender biologis saya, karena otak saya saat itu sangat sigap mencatat dan menyimpan rapi catatannya pada tempat tersembunyi. Januaripun dimulai, jalan – jalan padat kota kecil itu turut berpesta, semarak di hampir setiap sudut jalan protokol, warna – warni dan bergambar. Gambar dalam ruangimajinasi saya. Januari masih berlanjut berlompat di tiap angka belasan almanak, lompatannya tidaklah kecil, ia melompat jauh menyebrangi pulau dan samudra. Sebetulnya tidak ada yang istimewa dari tanggal tersebut, sebuah bentuk pelarian yang terlalu absurd dan konyol itu saja. Bentuk pelarian seorang lelaki yang memasuki usia penghujung 20-an. Cukup bernostalgia karena ia tidak mau beromansa.
Januari kemudian berlalu bersama semua pesta di dalamnya, berlalu memberikan wasiat kepada Februari yang beku, Februari diwarisi catatan akhir januari yang gelap. Februari bahkan tidak pernah dimulai, Februari telah berakhir saat ia dimulai, dan Maret selalu menunggu untuk memulai.
Maret, semua lengang dan sunyi. Semua keteraturan yang dimulai dari ketidateraturan meniti pelan – pelan, perlahan dan hati – hati. Saya tidak ingin kehilangan satu haripun dari Maret, menanti setiap malam yang senyap untuk bercumbu dengan gelapnya yang pekat. Pada Maret, malam kembali hadir dalam kehidupan nyata, ia nyata dan hadir walau bertemu dalam dunia maya yang labur dan kabur. Kembali setia menjadi penghuni hitam dengan bintang – bintang yang sering tidak hadir. Menikmati maret hanya untuk diri sendiri, dan membuaikan diri dalam mimpi yang lama terbangun tapi tak pernah diselesaikan. Maret mencintaiku dengan semua detiknya, menghanyutkan dalam setiap denyutnya. Maret membuka jauh pandangan, menelan semua keinginan dan mencernanya, mengambil semua sari pati dan membuang sepahnya. Maret semuanya terasa terus bertambah, terus bertambah, bertambah. Maret membagikan semua keindahan untuk para penerusnya.
Tidak sekedar keindahan Maret yang disesap April, ia menambahkan semangat khas april yang konyol dan energik. April selalu punya cara untuk menceriakan, selalu punya nuansa untuk dihadirkan. Setiap hari pada April adalah berkah untuk para pemimpi, berkah kepada para budak – budak yang setia pada pilihan yang telah dibuat dan meresapinya sebagai pengabdian bukan sebagai perintah. April mengubah warna hitam menjadi violet yang jingga. Bermain – main dengan bulan yang selalu hadir lebih telat 52 menit setiap 24 jamnya. Saya menyukai April sebagai sebuah awal yang direncanakan, sebagai sebuah rencana yang dijalankan setelah lama tersimpan mengusang. Betapa April telah merencanakan segala yang benderang di Mei.
Mei melanjutkan semua usaha April. Berawal dengan lima yang membuat saya harus berfikir ulang tentang semua. Mei membuka lebar jalan atas pandangan yang telah dibuka Maret. Memantapkan hati untuk menetap dan berhenti berjalan. Berhenti berjalan mencari kemapanan dalam pengembaraan, berhenti mencari mapan dalam perjalanan. Semua akan kau temukan disini, Mei berbisik. Nyamankan hatimu. Tidak akan kau temukan untuk kali kedua dalam perjalan yang bahkan tidak mau membiarkan kau beristirahat. Tetapkan pilihanmu, Mei untukmu ada disini, Mei manismu kau resapi disini, di tempat yang kau benci. Di tempat yang dulu kau sebut kotak pembuangan, tempat yang dulu kau umpat sebagai tong sampah! tempat itu memberimu manis dan anggunnya Mei. Menetaplah, bangun kembali mimpimu dan selesaikan, kau tidak akan menemukan bukit dengan danau atau samudera di hadapannya, kau tidak akan menemukan penghuninya memakai mantel tebal dan berbulu. Kau tidak akan melihat glacier turun dari kaki – kaki gunung es. Disini kau temukan Mei yang manis, dan anggun. Mei yang hanya kau temui dalam kalam imajinermu, Mei yang selalu kau impikan dalam setiap lajur bulan. Mei memberi semua kesempatan itu.
Saya tidak pernah ingin bercerita tentang Juni. Sosok angkuh dan keras. Juni mengakhiri impian Mei yang manis. Juni membunuh Mei yang anggun. Juni menghempaskan April, Juni menghancurkan Maret! ia melampiaskan dendam Februari. Juni melakukannya dua kali! pada awal dan tengahnya. Juni memenangkan semua ego. Saya membenci Juni. Juni tidak membuat semua meluber, Juni membuat semua menguap dan menghilang. Juni hendak menebus pada akhirnya, sepertinya terlambat. Juni tidak pernah membuatnya menjawab, Juni membuatnya terdiam, Juni membuatnya berlari. Juni menghilangkan ia. Juni melambaikan tangan, menyadari kesalahan tapi tak mampu menebusnya. Juni tersengal, Juli menghadapinya dengan dingin. Juli tidak pernah peduli jika Juni meminta waktunya untuk Juni. Juli harus berjalan.
Apa kabarmu Juli? silahkan memulai. Saya siap
eehhmmm… tentang apa ini kawan? ada yang belum di ceritain nih bau bau nya? cerita dong, juli ini bakal dingin lagi nih hehehe
hahaha sepertinya bakal dingin bung, baru tanggal lima udah menggigil nih hehehehe
ah tetap rio yang dulu kau ini bung ! terlalu berkiasan. sudah ketemu bung ? jangan bilang sudah bung ! saya tidak rela wkwkwkwkwkwkwkw